Sabtu, 19 November 2011

Musuh Dalam Selimut

Jauhi sejauh-jauhnya, buanglah jangan sampai terkenang kembali. Untuk mereka yang tidak pernah berguna dalam otakmu.

Buat apa memelihara mereka dalam keseharian jika hanya menjatuhkan setiap detak langkah laku selalu terlihat buruk dimatanya.
Untuk apa mengenalnya yang tidak pernah menguntungkan sedikit pun jika kemampuannya hanya menikam dari segala penjuru menggelapkan dunia yang paling berharga.



Bukan membenci, tapi jangan sampai rugi dikemudian hari.

Kenali mereka sedetil-detilnya, dalam setiap kenyataannya tidak pernah berdusta tapi itu semua realita palsu belaka. Rayuannya meragukan, memaksa dengan berjuta rasa manis dikata namun pahit dibaca.
Tak pernah ada dalam mimpi namun itu sudah terbayangkan bakal terjadi. Mereka akan pergi menjauh disaat targetnya telah mati kutu dan semoga saja itu bukanlah kamu.

Senin, 14 November 2011

Ibu Kota Tuhan

Jakarta ibu kota metropolitan memang benar adanya, disana-sini semua serba modern dan berkelas. Banyak yang bilang nyari uang disitu mudah, berlimpah seperti orang merauk sampah. Tapi itu semua sebenernya cuma hiasan kata, aslinya bagi yang belum ketiban rejeki di pusat pemerintahan negri ini tidaklah segampang malah seperti sedang bermimpi dipinggir jurang.



Bersuku-suku menjadi satu, beragam manusia membaur dan berkumpul. Uniknya suku asli dari kota Jakarta sendiri, yakni suku Betawi pun perlahan-lahan mulai tergusur lalu menghilang. Kejamnya ibu kota. Lalu siapa tuan rumah kota ini? Sulit dipegang peranannya, semuanya ogah bertanggung jawab disaat dalam keburukan. Lepas tangan, angkat kaki kalau perlu andai ada sesuatu yang membahayakan.

Hidup memang unik, ada hitam ada putih, ada si kaya dan juga si miskin. Namun sulit untuk ditemukan dikota ini, mana yang sesungguhnya berjiwa kaya dan siapa yang sebenernya bermiskin harta. Semua berlomba meraih kemenangan dengan caranya sendiri, jauh beda dengan kota-kota lain di Indonesia. Setahu gw disana semua saling bergotong-royong, menyamakan derajat namun tidak melupakan siapa yang harus dihormat.



Bukan tanpa otak kota ini terus berkembang, tapi terlintas terbayang sepertinya kota ini sebenernya berkembang menjadi tak berotak. Lalu siapakah otak dibalik semua ini?? yang mengatur keunikan hidup ini. Hanya satu, Tuhan Yang Maha Esa. Dialah ALLAH SWT, yang mengendalikan ini semua bahkan dunia sejagat raya. Sebaik-baiknya yang terbaik untuk hidup dan mati gw yang terbaik cuma mempasrahkan apa yang akan gw lakukan dan hasilnya atas nama ALLAH.

Baca juga >> Andai Aku Menjadi Anggota DPD RI

Subuh Dimulai

TERbangUNtukMU

Pagi masih terlelap tapi gw masih semangat dengan pandangan berbinar, matahari sibuk disisi bumi yang lain dan gw begitu pula. Tidak seharusnya

Berlatar langit yang hitam namun terang dengan berjuta bintang menemani sang rembulan yang sendirian, gw cuma bisa terpana gak bisa meraihnya. Terkagum dengan kesepian

Berlari hingga lelah, berhenti lalu sujud mencium tanah keras terasa hangat dikepala. Mengagumi kebesaran sang pencipta semua ini. Cucuran keringat tak ada arti.



Belum ketemu juga apa yang dicari, belum digenggam apa yang ingin harus gw raih. Tersesat dalam kekosongan tenggelam dilautan yang begitu luas gak berbatas.

Gak boleh menyerah gak ada kekalahan dalam kematian nanti, seperti pohon yang sudah tumbang pun masih berguna. Gw kembali bangkit tenaga sudah bertambah.

Suara panggilan sempurna dari sang maha jagat raya telah berkumandang, menenentramkan gw untuk membersihkan diri. Air kesejukan bersih membasuh hingga hati.